Friday, June 11, 2010

Fantastic Day With Transjakarta

Hari ini gue pulang jam 5 dari sekolah karena ada rehearsal STSO Junior "Our Music" (Nonton ya!). Gue jadi panitia sebagai LO, jadi gue bertanggung jawab atas kelancaran acara tersebut dan HARUS ikut rehearsal tanpa pengecualian apapun. Buat gue sih, pulang sore dan harus berkorban capek itu enggak masalah, karena orang-orang udah memberi kepercayaan buat gue dan gue harus bertanggung jawab penuh atas kepercayaan tersebut.

Di halte Sarinah, keadaan udah rame dan penuh banget dengan manusia. Banyak banget orang. Di Sarinah aja, gue udah menghabiskan waktu selama 45 menit sendirian nungguin bus yang dateng. Busnya sih dateng, tapi yang masuk sedikit demi sedikit karena di dalem bus juga ada banyak orang. Lha, kita yang di dalem halte juga penuh. Pokoknya, kesimpulannya dimana-mana rame karena orang di Jakarta udah banyak banget (kalo gitu plis ibu-ibu jangan hamil terus :P).

Ada hal yang mengagetkan sewaktu gue berada di halte Sarinah. Di depan gue ada cewek, dia lagi sms-an sambil denger lagu. Daripada gue enggak ada kerjaan, jadi gue intip aja isi sms orang itu, dan yang gue baca adalah ," ******** (nama orang) kayaknya w lesbian deh, tiap kali gue ngeliat cewe w terangsang".

GLURP!

Gue kaget abis! Oh my God! Orang ini terang-terangan ngaku kalo dia (maaf) lesbian. Gue jadi ngeri sendiri deh, takut kalo di apa-apain. Padahal, nampak dari luar orang ini modis, rapi, riasan wajahnya juga ok. Tapi, dia maunya sama cewe?

Gue ngeri kalo aja tiba-tiba enggak sengaja dia kesenggol gue (secara di Transjakarta ada banyak orang yang terburu-buru) terus dia ngedipin mata ke gue terus bilang "Hai!". Duh, gue bisa pingsan kali ya. Ini emang imajinasi gue sih, tapi gue berjaga-jaga aja supaya apa yang gue bayangkan tidak terjadi.

Sangat beruntung gue terpisah dari orang itu, dan sesampainya di halte Harmoni (transit) ada banyak banget banget banget orang yang mengantre di jurusan Kalideres. Gue rasa 1 km ada kali. Serius panjang banget! Dan tebak berapa lama gue mengantri? 1 jam! Gila banget, gue berdiri selama 1 jam nunggu bus tanpa duduk sedetik pun. Gue lebih milih keliling 1 komplek Theresia jalan kaki selama 20 kali.

Ada banyak orang di sekeliling gue, maka gue harus berhati-hati terhadap sexual harassment. Gue amat sangat berharap itu ENGGAK AKAN PERNAH terjadi sama gue.

Gue juga menghabiskan waktu 1 jam di bus dengan posisi berdiri. Rasanya telapak kaki gue udah sakit. Tapi, itulah kehidupan di Jakarta. Kehidupannya keras dan semua orang berjuang untuk hidup. Mereka mempertahankan kehidupan mereka dan melakukan apa yang bisa dilakukan, walaupun mereka harus menderita juga.

Itulah kehidupan di Jakarta, sarat akan kesenangan tapi juga dengan kerasnya hidup. Memang hidup ini enggak akan lepas dari perjuangan. Perjuangan di kala senang dan perjuangan di kala sedih. Tapi, adaa perjuangan pasti akan ada kemenangan juga.

Saya bersyukur karena walaupun pegel banget di perjalanan, saya masih punya 2 kaki yang norma. (Thanks God!). Ya, hari ini memang fantastik!


Love and Peace :)

Wednesday, June 9, 2010

Gue Malu Dengan Gue yang Goblok!

Hari ini gue ada latihan orkestra di sekolah. Seperti biasa, latihannya diadakan siang hari.

Sekitar jam 11.30, gue nyampe di depan Sarinah, gue jalan kaki menuju sekolah dari halte (sama seperti biasanya). Tapi, kali ini ada yang berbeda di depan lapangaan parkirnya ditutup dengan tenda. Ternyata, ada acara kebangkitan Kartini. Jadinya, dibanding gue muter, gue masuk deh ke dalam Sarinah, sambil membawa biola yang berkotak hitam.
Di depan pintu masuk, gue dihadang sama Pak Satpam.
"Dek, diperiksa dulu ya," kata dia sambil megang case biola gue.

"Lha, diperiksa, Pak? Tumben amat, biasanya enggak seketat ini penjagaanya, Pak!" kata gue dalam hati. "Ya ampun Pak, saya enggak bawa bom kok," lanjut gue dalam hati.

"Silahkan," kata si Satpam setelah memeriksa tas gue.

Gue pun berjalan. Dengan PD gue bawa biola itu, Enggak ada yang perhatiin juga. Maklum ya kita orang Indonesia, kita ini individualis (setau gue yang individualis itu budaya orang Eropa sejak abad-18).

Sampai di Pintu Utama, gue ngeliat ternyata parkiran juga enggak boleh dipake. Trus, selama gue jalan di Sarinah, gue denger lagu Betawi, asyik deh sampe gue juga pengen goyang. Serius loh, lagu kita ini emang asyik didenger. Enggak ada bangsa lain yang bisa menyaingi lagu-lagu daerah kita ini. Untuk itu, kita mesti bangga sama bangsa kita dong? :)

Nah, yang bikin gue malu adalah saat perjalanan pulang.

Pas jalan pulang, gue kepikiran beli batik buat photoshoot STSO hari Jumat, jadi gue pengen cari di Sarinah sambil dengan PD membawa biola (yang bisa aja orang kira didalemnya ada bom atau barang-barang berbahaya lainnya). Sebenernya, di hari itu ada menteri-menteri yang dateng untuk melihat barang-barang dalem negri di Sarinah, sekligus untuk berbelanja juga. Emang sih gue ngeliat banyak pers, tapi gue ENGGAK TAU kalo ada menteri.

Jadinya, gue jalan naek escalator ke lt. 6 dan 7 tempat jual batik. Di escalator aja udah ada pers, banyak juga. Lho, makin lama makin meriah, gue jadi bingung sampe akhirnya gue nanya sama seorang cewe di belakang gue sewaktu di escalator.
"Mbak, ini ada apa ya?" tanya gue.

"Ooh, ini ada acara para menteri dateng melihat-lihat produk-produk dalma negri yang ada di Sarinah," jawabnya sampe escalatornya sampai ke lantai 6.

"WHAT?!" seru gue dalem hati.

Pantes aja di dpean escalator ada banyak pegawai yang jadi penyambut tamu sambil bilang "Silahkan, Pak! Silahkan, Bu!"

Gue langsung aja lari ke belakang menuju eskalator turun. Gue udah sukses membuat pegawai-pegawainya ngelirik ke arah gue, seakan-akan gue penjahat yang membawa bom di dalam kotak hitam besar yang sebenarnya sisinya adalah sebuah biola, dan bayangkan gue berjalan CEPAT diTENGAH-TENGAH para menteri. Ya Tuha, gue jaln di antara para menteri dengan kaos ungu bergambar Tinkerbell lagi nari ballet, cropped jeans beri, sneaker flat shoes, dan rambut terurai kemana-mana. Penampilan gue bener-bener paling ENGGAK BANGET di antra para ibu-ibu yang disanggul rapi, pake kerudung, dan baju yang formal dan cantik.

Beneran deh, pas gue naek escalator turun, gue merasa kayak orang bego banget. Gue tuh ngapain coba? Haduh, malu gue, beneran deh satapam, pegawai ngeliatin gue. Mending kalo gue diliatin karena gue cantik banget kayak Miss Universe tapi ini gue diliatin karena gue aneh dan tolol abis.

Tapi, ya sudahlah, namanya juga pengalaman, tidak pernah terbatas, tapi ada saja yang memalukan. Cuma, gue merasa bingung aja ya kenapa Sarinah enggak nulis sebuah tanda di depan eskalator di lanta jauh sebelumnya? "DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK BERKEPENTINGAN"

Tuesday, June 8, 2010

Thanks God

Terimakasih Tuhan karena saya sudah diberi kesempatan untuk mengajar :)

Semoga saya bisa mengjara dengan baik dan lancar, tidak mengecewakan orang yang telah memberikan kepercayaan ini kepada saya.

Mimpi ini telah tergenapi oleh berkat-Mu Tuhan :)

(aku tersenyum lagi dan menghela nafas)

Tuhan, semoga aku bisa menjadi guru yang baik seperti Engkau.

Amiiiiin

Sunday, June 6, 2010

Gayamu, Tunjukan Dirimu

Hari ini, gue baru pulang dari acara sleepover dengan 2 sepupu cewek di Kelapa Gading. Mereka lebih tua dari gue, tapi cuma beda 4 dan 2 tahun. Jadinya, kita nyambung, dan kita sering seru-seruan bareng.

Apalagi, soal dandan. Mereka suka banget! Mereka lebih sering merias diri dibanding gue. Bukan berarti gue asal-asalan atau cuek aja sama penampilan. Tapi, gue cuma memperhatikan gaya berpakaian doang, enggak sampe make-up segala. Pokoknya, merias diri ala gue adalah memperlihatkan gue apa adanya. Gue memang begini, dengan berpakaian seperti ini, dan tampang terlihat begini.

Tapi kali ini, dengan 2 sepupu ini, gue jadi berubah dalam merias diri.

Sehabis gue mandi, gue pake baju, merapikan rambut, ngaca-ngaca bentar, udah gitu selesai. Nah, 2 sepupu gue ini melakukan lebih dari itu. Kalau buat mereka apa yang gue lakukan itu masih jauh dari lengkap. Apa yang mereka lakukan? Make-up! Pake foundation, bedak, lipgloss, dan teman-temannya.

Secara gue sendiri cewek, tangan gue pun bergerak dan mencoba salah satu dari alat rias mereka. Bedak!

“Ci, aku pinjem bedaknya, ya!” kata gue sambil mendekati sepupu gue yang paling tua. Dia lagi sibuk menaburi bedak di depan cermin.

“Oh, pake aja. Nih,” jawab dia sambil kasih bedak. Ukurannya kecil. Gue liat warna bedaknya pink, dan gue pun langsung jawab.

“Ci, aku enggak cocok pake bedak warna ini. Aku kan kulitnya coklat,” kata gue sambil menyodorkan bedaknya.

Dia mengambil bedak lain yang ukurannya lebih besar (tapi tetep aja kok itu bedak hehehe).

“Kalo gitu pake yang ini,” katanya.

Gue pun langsung menabur bedak itu ke wajah dan leher (biar enggak belang). Hasilnya, menurut gue lebih baik. Wajah gue tampak lebih halus, dan lebih cerah. Oke, hasil yang tidak mengecewakan.

Setelah bedak, gue coba pake eyeliner. Dari semua alat make-up gue paling suka eyeliner, tapi yang pensil karena bisa membuat mata gue yang sipit ini jadi lebih belo (besar). Sebenerya sih, bukan berarti gue enggak pernah make-up sama sekali. Gue bisa make-up, ngerti malah, dari majalah, tv, koran, dan lain sebagainya. Tapi, gue ga pernah make-up untuk acara casual, seperti sekedar untuk hang-out.

Dengan memakai eyeliner, mata gue jadi terlihat lebih terang, seger, dan lebih belo tentunya ;). Gue liat diri gue di kaca. Gue jadi lebih berbeda. Kalo menurut gue sih, jadi lebih menarik aja. Perbedaan yang membuat lebih baik. Gue jadi lebih cinta sama diri gue sendiri.

Selama ini gue berfikir,”Buat apa sih pake make-up buat acara sehari-hari doang? Kenapa kita harus menutupi diri kita dengan alat-alat seperti itu? Kalo kita memang begini, ya tunjukin aja.” Tapi, setelah gue mencoba alat-alat itu, gue jadi merasa pandangan gue itu salah. Munafik kalo gue enggak mau jadi cantik dan menarik. Kita bebas menggunakan style kita. Kalau kita memang merasa bisa lebih menarik dengan alat-alat make-up itu, ya gunakanlah.

Seseorang yang cantik itu tidaklah selalu bawaan dari lahir, tetapi orang yang bisa merawat dirinya dengan baik dan tahu bagaimana caranya. Kalau kita memang cantik tanpa make-up ya enggak apa-apa. Tapi, kalau kita cantik dengan blush on merah di pipi ya enggak apa-apa juga.

Gue juga enggak kebiasa menggunakan alat make-up untuk sehari-hari karena nyokap enggak membiasakan, dan sekarang gue sudah berfikiran lain. Bukan berarti kita enggak membutuhkan make-up sama sekali. Selama kita membutuhkannya untuk membuat kita jadi lebih baik, sah-sah aja kok. Lagipula, alat-alat make-up itu diciptkan untuk membuat kita, kaum hawa, terlihat semakin bernilai dan berharga untuk menunjukan Tuhan yang Mahabaik menciptakan manusia seindah kita, wanita :)

Kita memang indah, dengan ataupun tanpa alat make-up, dan bukan berarti juga dengan alat make-up kita bisa berpenampilan “lebay”. Gunakan disaat dan waktu yang tepat, segalanya disesuaikan. Alat make-up memang bisa membuat kita cantik, tapi bisa juga merusak wajah. Tunjukan style kita, siapa kita dengan make-up. Style kita bisa menunjukan jati diri loh! That’s why, kalau kita ingin menggunakan make-up dengan sewajarnya aja. Enggak mau kan orang-orang jadi ilfil gara-gara riasan kita?

Alat make-up enggak menutupi kecantikan dari wajah kita, tetapi hanya untuk melengkapi kecantikan yang kita miliki. Semua perempuan itu cantik kok! Hanya saja memiliki kecantikan inner dan outter yang berbeda.

Sayang banget tadi gue enggak bawa kamera, jadi enggak bisa foto sebelum dan sesudahnya deh. Lain kali gue dengan style yang gue punya. Atau mau lihat orangnya langsung aja? Hhehehehe :P

 

Peace and Love to you all! Muach!

Friday, June 4, 2010

Update Blog

Udah beberapa hari ini enggak update blog jadi jarang menceritakan keseharian gue hehehhe. Padahal, dengan rajin menulis maka kita akan semakin kreatif dan terampil hehehehe.

Kali ini gue ga punya banyak waktu untuk nulis, karena gue mesti packing untuk nginep di rumah sodara besok ahahahha. Engga mood banget buat packing :( dan lagi di otak gue ini lagi ada ide buat bikin cerpen baru nih. Wihiy!

Tapi, setiap kali gue pengen nulis gue pasti keganggu sama TWITTER! Enggak tau juga ya tab Twitter selalu menggoda untuk dibuka. Seperti dia memanggil ,"Ayo ayo Irma buka tab ini!Lihat saya, LIHAT SAYA!" Aih! Menggoda banget. Tapi, namanya godaan bisa aja kita terjebak, bisa aja kita terhindar. Tapi.. biasanya sih gue.. terjebak! Hehehehe (saya ini lemah sekali yaa :( )

Karena itulah, gue berharap untuk terhindar dari godaan si Twitter maksiat itu hehehe.Ohya, gue juga sudah mau mulai usaha jualan kue, lho! Hari ini gue udah hitung-hitungan harga. Menunya ada:
- Donat (Gue kasih nama: donat ceria dan donat salju. Bair menarik aja sih)
- Risoles
- Macaroni Schotel
- Lumpia Pisang
- Muffin Gurih

Hari ini gue baru ngitung harga Donat dan Risoles. Gue hitung donat seharga 2000, dan Risoles 3000. Ini termasuk murah lho untuk makanan yang enak, lezat, sehat, higienis, dan bergizi (gue bisa jamin! ;) ). Pasaran gue adalah temen-temen kantor nyokap. Jadi, sambil kerja mereka bisa ngemil. Lumayan kan dengan 5000 mereka bisa dapet 2 item.

Gue berharap orang-orang suka dengan makanan yang gue buat (maksudnya: laku). Sejauh ini sih, nilai tata boga gue bagus, karena itulah gue punya rasa optimis untuk membangun usaha ini. Lagipula, ini juga liburan, daripada gue enggak ngapa-ngapain mending gue produktif :) Gue juga punya ide, gue mau kasih nama menu Macaroni Schotel menjadi Om Macaroni dan Tante Macaroni. Apa keunikannya? Kita lihat nanti :P

Sudah larut malam dan gue mesti packing. Ini cerita yang pengen gue bagikan hari ini. Entah tulisan ini bagus atau tidak, formatnya betul atau salah dan berbagi kesalahan lainnya harap dimaklumkan karena saya sudah lelad. Terimakasih perhatiannya semua :D

P.S: Silahkan memberi komentar, kritik, dan saran lewat via apapun. Trims :D

Tuesday, June 1, 2010

Membuat kue donat

Hari ini saya membuat kue donat loh :) (apaan sih?) Hahahaha. Yang pasti rasanya enak deh! Awalnya, saya coba buat kue donat dengan tujuan akan saya jual. Itu pun kalau enak. Sekali lagi: kalau enak.

Ternyata memasak donat itu gampang-gampang susah. Gampang saat membuat adonannya (untuk membuat adonannya tangan kita harus berani kotor, loh!), dan susah saat menggorengnya. Ini sih menurut gue ya. Gue sih lumayan sering masak, soalnya sekolah SMP gue (mentang-mentang udah lulus nih hehehe) ada pelajaran tata boga. Jadi, kurang lebih gue bisa masak.

Untuk membuat donat diperlukan tepung terigu yang lumayan banyak 500 gr. Ada juga, ragi, baking powder, vanili, mentega, gula, garam, air, dan telur. Awalnya, tepung terigu, ragi, baking powder, vanili, gula, garam, air dicampur jadi satu. Diaduk pake sendok juga enggak apa-apa. Nah, sewaktu memasukkan telurnya baru deh pake tangan. Tepungnya harus diaduk pake tangan biar lebih merata, dan pastinya adonan itu lengket! hehehhe. Setelah telur, mentega dimasukan dalam adonan. Ini lebih lengket lagi! Tapi, rasanya seru juga kok ngaduk adonan pake tangan sendiri. Lebih ada rasa.Perasaandari dalam hati untuk adonan yang kita buat sendiri. Kita aduk dengan rasa yang ada di hati kita. Beda rasanya sama pake sendok, kalo pake sendok kita ga tau rasa megang adonannya sendiri. Kita cuma tau ngaduk sampe rata doang. Tadi, sewaktu gue ngaduk adonannya gue juga ngerasain kok, tepung, mentega telor semuanya jadi satu ditangan gue, dan itu semua harus bermanfaat, bisa dimakan, dan yang penting gue ga ngerasain jijik, loh! Malah gue ngerasa puas :) Ohya, satu lagi yang penting kalo mau ngaduk pake tangan usahain enggak ada kuku, ya. Soalnya, (maaf ya sebelumnya) adonanya bisa kotor dengan kuman-kuman yang ada di kuku kita.

Setelah itu, ditunggu deh 30 menit sampe adonannya mengembang. Adonannya ditutup dengan serbet biar enggak kotor sama udara luar. Sewaktu gue nungguin adonan gue nonton film, dan ga berasa deh, ternyata 30 menit itu sebentar hehehe. Tapi, bikin donat emang banyak nunggu biar adonannya ngembang.

Atlast, sampailah gue pada tahap menggoreng. Gue menggoreng dengan kuali kecil. SEMUSTINYA, kuali besar dan minyak yang banyak. Terus cara menggorengnya harus dengan minyak panasa dan enggak boleh dibolak-balik supaya donatnya enggak makan minyak. Tapi, gue melakukan HAL YANG SALAH. Minyaknya belom panas dan dibolak-balik terus. Sampe-sampe kulit luarnya gosong tapi dalemnya belom mateng, udah gitu bentuknya juga aneh. Tampak dari luar malah seperti PERKEDEL! Warnanya coklat gelap dan enggak ada lobang ditengahnya. Sama sekali, itu bukan bentuk donat!

Bokap gue akhirnya turun tanga juga. Sebenernya gue enggak ngerti juga gimana cara dia membuat matang semua adonan donat itu. Yang gue tau dia matiin-nyalain kompornya terus. Dug, itu bukannya boros gas, ya? Ya sudahlah yang penting mateng.

Tapi, sekarang gue udah tau kesalahan gue membuat donat-donat itu. Yang penting adalah komentarnya (hehehehe). Para pencicip bilang donat buatan gue enak, loh! (Senangnyaaaaaa :D). Pastilah rasanya seneng siapa sih yang enggak seneng kalo hasil kerjanya dipuji? Mau cobain? BELI DONG!
hahhahaha

P.S: malem-malem gue jadi laper gara-gara ngomongin makanan (gendut deh :( )

Love you all!

Sunday, May 30, 2010

Exception (Pengecualian)

Siapa yang mau dikecualikan? Pasti enggak ada. Rasanya, sakit banget kalo kita jadi pengecualian. But, I have an experience about that.

Entah kenapa gue harus merasakan menjadi exception. Kenapa gue ditakdirkan seperti itu. Jangan tanya saya, karena saya tidak mengatur nasib sendiri (hehehe). Padahal, saya mau punya hidup yang... ehm bisa dibilang almost perfect, enggak pernah jadi orang yang dibelakang selalu menjadi orang yang berada di depan. Tapi, itu semua keinginan saya. Terkadang hidup saya juga bercacat.

Saya pernah menjadi seorang exception. orang yang dikucilkan. Memang saya pernah salah, jadinya saya dikecualikan. Tapi, kesalah itu seperti enggak dimaafkan.

Temen-temen mengucilkan gue. Mereka enggak ngajak gue untuk hang out. Temen-temen yang lain diajak pergi. Gue ngeliat temen lain bisa seeng-seneng bareng, dan gue..? Foto bareng, saling berbagi, dan hal-hal yang lain yang bisa elo lakuin bareng temen-temen loe. Gue enggak mendapatkan apa-apa disini. Gue ga bisa bohong kalo gue ada perasaan iri juga.

Pas temen ulang tahun, gue ngeucapin selamat, tapi enggak dibales dengan "terimakasih". Gue cuma dikacangin doang. Gue merasa engga adil. Gimana enggak? Gue merasa enggak dihargain.

Oke gue memang salah, tapi enggak ada kesempatan untuk berubah.

Lalu, dari kejadian-kejadian ini gue sadar. Gue enggak bisa menunggu kesempatan dari orang untuk gue berubah. Kesempatan itu ada kalo gue sendiri yang buat. Gue harus mulai dari diri gue sendiri untuk berubah. Setiap orang bisa berbuat kesalahan dan enggak ada hidup yang sempurna, sangat-sangat sempurna, tanpa ada masalah sama sekali.

Kita dilahirkan tidak sempurna, maka hidup kita juga enggak sempurna. Ada aja masalah yang dateng. Kita bisa memimpikan hidup kita indah, tapi kita tidak selalu mendapat apa yang kita harapakan.

Gue juga seperti itu, gue terlalu berambisi dengan hidup tanpa cacat, tapi ternyata itu semuaa bukan karena ambisi gue, tapi gue ini pengecut! Gue enggak bisa melalui tantangan hidup, dan gue takut berbuat salah. Padahal, dengan kesalahan kita tau yang benar.

So, gue pernah dikucilkan. Dari situ gue belajar untuk menghargai orang. Walaupungue sebel sama seseorang, tapi gue harus bisa menjaga perasaan orang.

Ternyata, enggak ada salahnya kalo hidup kita pernah sedikit cacat. Darisitu kita bisa belajar untuk hidup lebih baik lagi, juga semakin memotivasi diri kita untuk jadi lebih baik. Love you allll ;)!

P.S: at the end of the story, ternyata menjadi orang yang dikucilkan adalah sementara, setelah itu kita dicintai orang-orang lagi :D